Home » Budaya » Selendang Miwang, Selendang Perpisahan Meninggalkan Masa Lajang
Selendang Miwang

Selendang Miwang, Selendang Perpisahan Meninggalkan Masa Lajang

Selendang miwang / selendang menangis dikenal sebagai selendang perpisahan dari masa lajang dalam masyarakat Lampung. Simak keunikan tradisi tersebut secara lengkap dalam ulasan berikut.

Bagi setiap pasangan dan keluarganya, pernikahan tentu menjadi momen yang sangat istimewa. Tidak heran jika banyak prosesi yang harus dilalui oleh sepasang calon suami-istri hingga hari bahagia mereka tiba. Begitu halnya di Indonesia, setiap daerah memiliki tradisi sendiri untuk menyambut hari istimewa itu. Pada masyarakat suku Lampung sendiri, ada selendang miwang yang menjadi tradisi perpisahan masa lajang.

Apa itu Selendang Miwang?

Selendang / sinjang miwang adalah sebuah kain yang memiliki motif khas Lampung. Secara harfiah, sinjang miwang berarti kain / selendang menangis, meski dalam praktiknya, selendang digunakan saat acara pesta, seperti sekuraan dan lempar selendang.

Kedua tradisi itu dapat Anda temui di Lampung Barat. Sebagai salah satu kabupaten yang dahulunya merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Sekala Brak, budaya Lampung masih sangat kental di sana. Pesta sekura (sekuraan) sendiri dilaksanakan pada tanggal 1-7 Syawal. Pelaksanaan pesta ini bergantian dari satu desa ke desa lain.

Lihat juga » Tradisi Ngumbai Lawok, Ruwat Laut Ala Lampung yang Sempat Ditinggalkan

Nilai dari pesta ini sebenarnya hampir sama dengan upacara bersih desa pada suku Jawa, yakni bersyukur. Namun sekuraan juga mengandung nilai, seperti kebebasan, kemenangan dan kegembiraan untuk berkreasi dan berekspresi. Oleh karena itu, sekuraan tidak hanya digelar saat bulan Syawal, melainkan juga setiap tanggal 17 Agustus.

Menjelang pelaksanaan pesta, akan dilaksanakan gotong-royong oleh masyarakat. Sekuraan akan diisi juga dengan berbagai atraksi, seperti pencak silat, pelantunan sastra klasik muayak, hadra, dan ngarak sekura. Pada akhir pesta, akan ada atraksi cakak buah / panjat pinang. Peserta yang mengikuti cakak buah ini biasanya akan mengenakan sekura. Oleh karena itu, cakak buah menjadi lebih seru untuk ditonton.

Acara Cakak Buah – Sekura Kamak
(Facebook @Pariwisata Lampung Barat)

Terdapat dua macam sekura pada pesta sekura. Pertama, sekura kamak (sekura kotor). Topeng yang dikenakan untuk sekura kamak biasanya terbuat dari kayu dengan karakter yang jenaka atau mengerikan. Untuk kostumnya, digunakan peralatan seadanya, seperti pakaian bekas, karung, hingga tumbuhan. Orang-orang dengan kostum ini akan menjadi peserta cakak buah di akhir pesta.

Kedua, sekura betik (sekura bersih). Topeng dan kostum yang digunakan terbuat dari kain (sinjang). Pada properti di kepala, digunakan selendang / sinjang miwang, dan di pinggang penuh dengan gantungan kain-kain panjang. Sekura betik umumnya digunakan oleh pemuda untuk meramaikan pesta sembari menjalin keakraban dengan muli / gadis di sana.

Mengenal Lempar Selendang

Ketika akan ada pernikahan di rumah salah satu bujang-gadis Lampung, biasanya pemuda/i setempat diminta berkumpul di rumah tersebut. Mereka akan menjalin keakraban satu sama lain melalui lempar selendang. Selendang yang digunakan adalah selendang miwang. Apa dan bagaimana lempar selendang ini?

Pelaksanaan lempar selendang biasanya saat manjau muli. Manjau muli ini dilaksanakan ketika calon pengantin wanita ‘turun’ ke rumah calon pengantin pria. Para bujang gadis berkumpul di rumah tersebut sebagai bentuk imbalan karena telah membantu persiapan pernikahan. Sebuah makanan khas bernama kekkuk, yakni bubur yang terbuat dari tepung ketan / beras tersaji saat acara.

Sebelum lempar selendang dimulai, para gadis duduk dalam satu barisan berhadapan dengan para bujang. Acara ini dilakukan dengan mengalungkan selendang pada lawan jenis yang dipilih. Bujang mengalungkan selendang pada gadis, begitu juga sebaliknya. Biasanya diiringi oleh musik khas Lampung. Jika musik berhenti, pasangan yang masih memegang selendang dapat terkena hukuman.

Selendang Miwang
Pelaksanaan Acara Lempar Selendang
(Sumber: Facebook @Eyi Arma)

Tidak heran jika acara ini juga bisa menjadi sarana untuk menjalin keakraban antara bujang dan gadis setempat. Selain itu, sekaligus turut melestarikan tradisi suku Lampung asli yang perlahan mulai ditinggalkan.

Karena digunakan juga pada acara lempar selendang ini, maka selendang miwang juga dikenal sebagai selendang perpisahan terhadap masa lajang. Jika Anda penasaran dengan kedua tradisi itu, Anda bisa datang ke daerah yang masih didominasi suku Lampung, seperti Lampung Barat. Tentu harus datang pada waktu yang tepat, ya.

Berikan Tanggapan Anda