Home » Sejarah » Sejarah Keratuan Darah Putih, Titik Awal Penyebaran Islam di Lampung
Keratuan Darah Putih

Sejarah Keratuan Darah Putih, Titik Awal Penyebaran Islam di Lampung

Untuk menambah wawasan sejarah tentang Lampung, berikut ini ulasan singkat mengenai sejarah Keratuan Darah Putih yang menjadi titik mula penyebaran Islam di Lampung.

Selain terkenal dengan Way Kambas, Lampung Timur juga dikenal melalui Taman Purbakala Pugung Raharjo. Keberadaan taman itu telah ada sejak berabad silam. Berbagai prasasti yang diteliti mengerucut pada dua zaman, yakni Melinting dan Ratu Darah Putih. Kedua zaman itu  tidak terpisahkan dengan Keratuan Pugung.

Keratuan Pugung

Nama asalnya adalah Ratu Galuh yang berasal dari suku apus, ketika pindah ke Pugung, berubah menjadi Nama Ratu Dipugung. Pugung sendiri saat ini merujuk pada Taman Purbakala Pugung Raharajo. Desa Pugung Raharjo terletak di antara Gunung Sugih Besar dan Bojong, Sekampung Udik, Lampung Timur.

Pemuka adat setempat menyampaikan bahwa semula desa Pugung Raharjo merupakan sebuah kerajaan yang dipimpin oleh raja bernama Ratu Dipugung. Diperkirakan kerajaan ini bercorak Hindu atau Budha. Namun awal dan akhir dari kerajaan itu belum bisa diketahui sampai saat ini. Hanya saja diperkirakan, di sekitar awal abad ke-16, masyarakat Keratuan Pugung menganut agama Hindu dan Budha dan juga kepercayaan Animisme.

Sejarah Keratuan Darah Putih

Terdapat dua versi tentang Keratuan Darah Putih ini. Namun meskipun sedikit berbeda, kedua versi tetap merujuk pada sejarah yang sama, yakni tentang awal dimulainya penyebaran Islam di Lampung.

Versi Pertama

Ratu Dipugung memiliki dua orang putra. Putra tertua bernama Seginder Alam dan adiknya bernama Gayung Gerunggung. Seginder Alam memiliki seorang anak perempuan yang dinamakan Putri Sinar Kaca. Adiknya, Gayung Garunggung, memiliki seorang anak perempuan juga yang dinamakan Putri Sinar Alam.

Ketika Sultan Banten datang ke Lampung, tepatnya ke Pugung, ia dikenalkan dengan cucu Ratu Dipugung, yakni Putri Sinar Kaca. Perkenalan itu berhasil kemudian keduanya menikah.

Beberapa saat setelah menikah, Sultan kembali ke Banten tanpa Putri Sinar Kaca. Setelah itu Sultan Banten kembali ke Lampung, namun bukan untuk menemui istrinya, melainkan untuk menikahi Putri Sinar Alam.

Kedua putri itu kemudian melahirkan seorang putra. Putra dari Putri Sinar Kaca diberi nama Kejalo Bidin, sedangkan putra dari Putri Sinar Alam diberi nama Kejalo Ratu. Keduanya tumbuh dan berkembang di Pugung.

Ketika telah beranjak dewasa, keduanya memutuskan pergi ke Banten untuk menemui ayahnya, Sultan Banten. Dengan melalui serangkaian proses yang cukup sulit, akhirnya Sultan Banten percaya bahwa yang datang adalah anaknya. Kejalo Bidin  kemudian diberi gelar ”Minak Kejalo Bidin”, dan Kejalo Ratu diberi gelar ”Minak Kejalo Ratu Darah Putih”.

Bertahun-tahun setelahnya, Ratu Dipugung meminta dua cicitnya mendirikan keratuan baru di bawah kekuasaan Keratuan Pugung. Minak Kejalo Bidin diminta mendirikan keratuan di Melinting dan saudaranya, Minak Kejalo Ratu Darahputih di Kalianda.

Versi Kedua

Pada saat itu terjadi cukup banyak aksi teror di daerah Pugung. Ratu Pugung memutuskan untuk meminta bantuan pada Syarief Hidayatullah / Sunan Gunung Jati / Sultan Banten. Setelah mengetahui itu, Syarief Hidayatullah pun memutuskan untuk membantu Ratu Pugung.

Namun bantuan ini bukan tanpa syarat. Syarief Hidayatullah memberi syarat, jika kawanan perampok itu berhasil ditumpas, Ratu Pugung dan rakyatnya diminta memeluk agama Islam. Meski menyetujuinya, Ratu Pugung juga meminta pusaka kerajaan yang dikuasai Raja Buaya Siluman untuk diambil.

Kedua permintaan itu berhasil dipenuhi oleh Syarief Hidayatullah. Dengan demikian, Ratu Pugung dan rakyatnya langsung memeluk Islam. Untuk semakin menguatkan pengaruh ajaran Islam, Syarief  Hidayatullah melamar salah satu cucu Ratu Pugung, Putri Sinar Alam. Namun bukannya dengan Putri Sinar Alam, Syarief Hidayatullah dinikahkan dengan kakak sang putri, yakni Putri Kendang Rarang.

Dari pernikahan itu, lahir seorang anak bernama Muhamad Sholeh yang bergelar Minak Kejalo Ratu. Minak Kejalo Ratu ini yang nantinya mendirikan Keratuan Darah Putih.

Keratuan Darah Putih
Makam Ratu Darah Putih Melinting (Gambar dari FB Bramantyo Bram)

Beberapa tahun setelahnya, Syarief Hidayatullah juga menikah dengan Putri Sinar Alam dan memiliki seorang anak laki-laki bernama Minak Kejalo Bidin. Minak Kejalo Bidin merupakan pendiri dari Keratuan Melinting.

Pada masa selanjutnya, salah satu keturunan Minak Kejalo Bidin ada yang menjadi Pahlawan Nasional asal Lampung, yakni Radin Inten II yang namanya hingga kini tetap dikenang.

Sekarang Anda sudah mengetahui sekilas sejarah mengenai Keratuan Darah Putih. Semoga menambah pengetahuan, ya.

Baca juga » Cikal Bakal Suku Lampung dalam Sejarah Singkat Kerajaan Sekala Brak

Berikan Tanggapan Anda

Don`t copy text!