Home » Budaya » Angkon Muwarei (Muwakhi), Sejarah, Sebab, dan Fungsinya
Angkon Muwarei

Angkon Muwarei (Muwakhi), Sejarah, Sebab, dan Fungsinya

Pernah mendengar istilah Angkon Muwarei atau Angkon Muwakhi dalam masyarakat Lampung? Lalu, apa arti dan fungsi serta sebab terjadinya istilah tersebut? Tulisan berikut ini akan menjawab rasa penasaran Anda.

Masyarakat Lampung memiliki sebuah budaya mengangkat saudara yang dikenal dengan Angkon Muwarei / Muwakhi. Angkon sendiri berarti menganggap, mengangkat, dan muwarei berasal dari kata puwarei yang memiliki arti saudara (laki-laki). Meski merujuk pada laki-laki, namun budaya ini bisa dilakukan juga pada perempuan.

Sekilas Sejarah Angkon Muwarei

Secara harfiah, Angkon Muwarei / Muakhi memiliki arti pengangkatan saudara. Maksudnya, proses ini merupakan proses pengangkatan saudara antara suku Lampung dengan orang lain yang bukan berasal dari suku Lampung. Budaya ini kabarnya berawal di masa Keratuan Darah Putih, yang saat itu menguasai kawasan pesisir Selatan.

Keratuan Darah Putih sendiri merupakan bagian dari Keratuan Pugung. Saat itu daerah kekuasaan Keratuan Pugung adalah wilayah Lampung Timur hingga pesisir Selatan dan sekitar Selat Sunda. Angkon muakhi saat itu terjadi antara pihak Keratuan Pugung dengan Kesultanan Banten.

Baca di sini untuk mengetahui tentang » Sejarah Keratuan Darah Putih, Titik Awal Penyebaran Islam di Lampung

Tujuan pengangkatan saudara ini pada mulanya untuk kepentingan perdagangan rempah-rempah. Selain itu, Kesultanan Banten juga sekalian bermaksud memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke perairan Selatan Sumatera. Sayangnya, jalur perdagangan ini, mulai dari Bangka, Jambi hingga Tulang Bawang, dikuasai oleh Kesultanan Palembang.

Melihat hal tersebut, Sultan Banten mempererat angkon muakhi melalui pernikahannya dengan putri dari Keratuan Pugung, yakni Putri Sinar Alam. Pernikahan ini menghasilkan seorang anak yang dikenal sebagai Minak Kejala Ratu, pendiri Keratuan Darah putih.

Sebab Terjadinya Angkon Muwakhi

Dari konsepnya sendiri, muakhi merujuk pada persaudaraan karena sedarah dan hubungan kerabat atas dasar agama dan moral. Tradisi ini bisa dikatakan merupakan inti dari piil pesenggiri masyarakat Lampung. Piil itu antara lain, nemui nyimah, nengah nyappur, sakai sambayan, dan bejuluk beadek. Piil atau filsafat hidup ini bersumber dari Kuntakha Khaja Niti (kitab undang-undang adat masyarakat Lampung) yang memang dipengaruhi ajaran Islam.

Baik pada masyarakat Pepadun atau Saibatin, tradisi Angkon Muwarei dapat ditemui. Hal ini dapat terlihat dari penerimaan masyarakat adat Lampung yang terbuka terhadap masyarakat suku lain. Tidak heran jika provinsi yang terletak di ujung selatan Pulau Sumatera ini sering disebut sebagai “Indonesia Mini”.

Data dari Bappeda Lampung menunjukkan bahwa suku Lampung yang ada di provinsi ini hanya sekitar 20% dari 2,2 juta penduduknya. Sedangkan 80% nya berasal dari suku lain, seperti Jawa, Sunda, Batak, Bugis, Tionghoa dan sebagainya. Akulturasi budaya terjalin dengan baik. Sebagai contoh, seni dari daerah Jawa Timur, yakni Reog dapat berkembang pesat di Kota Metro.

Fungsi Angkon Muwakhi

Sebagai kearifan lokal dari masyarakat Lampung, Angkon Muwakhi memiliki fungsi utama sebagai penyambung tali persaudaraan antar elemen masyarakat. Selain itu, tradisi ini juga dapat menjadi sarana untuk menyelesaikan konflik yang berkembang.

Maksud dari penyelesaian konflik dengan tradisi ini adalah agar pihak yang berseteru dapat menjadi saudara angkat. Bagi suku Lampung, persaudaraan ini berarti pengakuan penuh bahwa keduanya memiliki ikatan hubungan dekat lahir dan batin.

Karena ditetapkan melalui hasil musyawarah dan diputuskan sesuai hukum adat, maka daya ikatnya menjadi relatif kuat. Ada sanksi yang cukup berat jika janji itu dilanggar. Jika kedua belah pihak telah menjadi saudara, maka wajib untuk saling menghormati, menghargai, melindungi, terbuka, toleransi, dan tolong menolong. Hal ini sebagai wujud pelaksanaan piil pesenggiri.

Angkon Muwarei
Memelihara kerukunan hidup (Ilustrasi: Pixabay.com)

Untuk menjaga tradisi ini, para pemuka masyarakat secara simultan bersosialisasi ke kelompok masyarakat adat terkait pentingnya muwakhi untuk menciptakan kerukunan. Diharapkan Angkon Muakhi dapat menjadi sarana untuk memelihara kerukunan hidup dalam masyarakat yang berbeda kultur dan etnisnya.

Sekarang Anda sudah mengerti bukan bagaimana sejarah, sebab, hingga fungsi Angkon Muwarei / Muwakhi dalam masyarakat Lampung? Semoga bermanfaat.

Berikan Tanggapan Anda

Don`t copy text!